LAMPUNG,–Hantavirus, Ancaman Sunyi yang Tak Boleh Diremehkan
Oleh Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
Di tengah perhatian dunia yang saat ini sering tertuju pada pandemi besar dan penyakit viral
yang cepat menyebar, ada ancaman lain yang bergerak diam-diam namun mematikan yaitu
Hantavirus. Penyakit ini memang tidak sepopuler influenza atau COVID-19, tetapi tingkat
bahayanya cukup tinggi karena dapat menyebabkan gangguan serius pada ginjal, paru-paru
hingga kematian.
Penyakit virus hanta merupakan zoonosis yang disebabkan oleh Orthohantavirus. Penyakit ini
ditularkan dari reservoir (tikus dan celurut) melalui cairan tubuh (urin, feses, dan saliva)
maupun debu terkontaminasi yang terhirup (inhalasi aerosol). Ironisnya, ancaman ini sering
muncul justru di lingkungan yang dianggap biasa: gudang, rumah kosong, area pertanian,
tempat berkemah, sampah di pemukiman yang tidak dikelola dengan baik hingga tempat
penyimpanan makanan.
Penyakit virus hanta dapat menyebabkan dua manifestasi klinis, berupa Haemorrhagic Fever
with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Gejala penyakit virus
hanta tipe HFRS yaitu demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise (lemas), dan ikterik/jaundice
yang dapat bersamaan (ko-infeksi) dengan leptospirosis, dengue, tifoid, dan rickettsiosis.
Masa inkubasi 1 hingga 2 minggu dengan Case Fatality Rate (CFR) 5–15%. Sedangkan, gejala
penyakit virus hanta tipe HPS yaitu demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise (lemas), batuk,
dan sesak napas. Masa inkubasi 1 hingga 8 minggu dengan CFR 60%.
Secara global, penyakit virus hanta pada manusia sudah dilaporkan sejak tahun 2015 hingga
2026. Kasus tersebar di beberapa wilayah Eropa (seperti Finlandia, Jerman, dan Swedia),
Amerika (seperti Chili, Argentina, dan Panama) serta Asia (seperti Korea Selatan, China, dan Taiwan).
Penemuan penyakit virus hanta tipe HFRS di Indonesia sudah ada sejak tahun 2024 hingga
2026 (minggu epidemiologi 18) dari hasil surveilans dilaporkan sebanyak 23 kasus konfirmasi.
Kasus ditemukan di 9 provinsi, yaitu DKI Jakarta, DIY, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur,
Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Sumatera Barat.
Hingga saat ini, penyakit virus hanta tipe HPS (adanya laporan kasus konfirmasi penyakit virus
hanta tipe HPS/Hanta Pulmonary Syndrome di kapal pesiar MV Hondius), belum pernah
dilaporkan di Indonesia mengingat keberadaan reservoir tidak ditemukan di Indonesia.
Namun, kewaspadaan terhadap kasus importasi perlu ditingkatkan seiring tingginya lalu lintas
perjalanan internasional.
Indonesia telah melakukan penilaian risiko cepat/rapid risk assessment (RRA) di tingkat
nasional pada 4 Agustus 2025 dengan hasil risiko sedang terhadap potensi importasi kasus
penyakit virus hanta tipe HPS serta risiko tinggi terhadap potensi penambahan kasus tipe
HFRS.
Hantavirus terdiri dari berbagai jenis atau strain yang tersebar di beberapa wilayah dunia.
Belakangan ini, strain Andes hantavirus dari Amerika Selatan menjadi perhatian karena
diduga lebih mudah menular daripada jenis hantavirus lainnya. Berbeda dengan kebanyakan
hantavirus yang umumnya menular dari hewan pengerat ke manusia, strain Andes diketahui
dalam beberapa kasus dapat menular antarmanusia. Penularan virus ini diduga terjadi melalui
kontak dekat dan berkepanjangan dengan individu yang terinfeksi.
Meski begitu, WHO menegaskan bahwa penularan antarmanusia pada strain Andes
hantavirus masih tergolong jarang dan risiko penyebarannya ke masyarakat umum tetap
rendah.
Masalah terbesar dari hantavirus adalah rendahnya kesadaran masyarakat. Banyak orang
masih menganggap keberadaan tikus hanya sebatas gangguan kebersihan, bukan ancaman
kesehatan serius. Padahal, meningkatnya urbanisasi, mobilisasi antar wilayah yang semakin
cepat baik manusia dan barang, sanitasi yang buruk, dan perubahan lingkungan membuat
interaksi manusia dengan hewan pembawa virus semakin sering terjadi.
Pemerintah dan masyarakat tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus untuk
bertindak. Edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan harus diperkuat sejak
sekarang. Pengendalian populasi tikus, pengelolaan sampah yang baik, serta kebiasaan
membersihkan ruangan dengan metode dan perlindungan diri yang tepat merupakan langkah
sederhana tetapi sangat penting.
Hantavirus bukan penyakit yang menular antarmanusia secara umum seperti flu, tetapi
kewaspadaan tetap diperlukan agar masyarakat memahami cara pencegahannya. Kita belajar
dari banyak krisis kesehatan bahwa pencegahan selalu lebih murah daripada penanganan
setelah wabah terjadi. Karena itu, hantavirus harus dipandang sebagai peringatan bahwa
kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan
nyata untuk melindungi masyarakat. Ancaman terbesar sering kali bukan penyakit yang paling
ramai dibicarakan, melainkan yang datang saat kita lengah.
Munculnya perhatian terhadap Hantavirus menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit
menular tidak selalu datang dari wabah besar yang terlihat jelas. Di Lampung, kewaspadaan
terhadap virus yang dibawa hewan pengerat ini perlu mulai diperkuat, terutama karena
kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat berpotensi mendukung penyebarannya. Sebagai
daerah dengan aktivitas pertanian, perkebunan, dan permukiman yang terus berkembang
serta tingginya mobilitas orang dan barang antar wilayah, Lampung memiliki risiko interaksi
yang cukup tinggi antara manusia dan tikus liar. Gudang hasil panen, pasar tradisional, saluran
air yang kurang terawat, hingga tumpukan sampah rumah tangga dapat menjadi tempat
berkembang biaknya hewan pengerat pembawa virus.
Karena itu, langkah pencegahan harus menjadi prioritas. Pemerintah daerah bersama dinas
kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, perlu meningkatkan edukasi kepada
masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi
tikus. Sosialisasi tidak cukup hanya dilakukan di perkotaan, tetapi juga harus menjangkau
desa-desa, kawasan pertanian, Kawasan pemukiman dengan lingkungan yang tidak sehat,
Tempat Pembuangan Akhir/TPA sampah yang tidak dikelola dengan baik dan pasar rakyat yang
memiliki potensi risiko lebih tinggi.
Selain itu, kebiasaan membersihkan gudang atau ruangan tertutup juga perlu diperhatikan.
Banyak warga masih membersihkan kotoran tikus secara sembarangan tanpa alat pelindung
diri, padahal tindakan tersebut dapat membuat partikel virus beterbangan di udara. Edukasi
tentang cara pembersihan yang aman menjadi hal sederhana namun krusial. Gunakan masker,
gunakan lap basah ketika menyeka permukaan yang kotor akibat adanya bekas kotoran tikus,
bau kencing tikus yang sudah mengering, percikan air pada lantai Gudang yang memiliki
kotoran tikus yang sudah mengering dan lakukan pembersihan diri setelah melakukan
kegiatan pembersihan. Selain itu biasakan membersihkan botol minuman, kotak susu dll
dengan mengelap permukaan baik sebelum dikonsumsi.
Lampung tidak perlu panik menghadapi hantavirus, tetapi kewaspadaan harus dibangun sejak
dini. Pengalaman berbagai wabah sebelumnya menunjukkan bahwa kesiapsiagaan
masyarakat dan pemerintah menjadi kunci utama mencegah penyebaran penyakit.
Dinas kesehatan Provinsi Lampung sudah membuat Surat Edaran terkait Kewaspadaan Hanta
Virus di Lampung yang ditujukan pada jajaran kesehatan (Dinas Kesehatan Kabupaten Kota,
RS, Puskesmas, Laboratorium) untuk dapat melakukan Surveilans di RS atau Puskesmas untuk
menemukan tersangka Hantavirus tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome/HPS melalui gejala
pemantauan dan verifikasi tren kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI), ISPA, dan
pneumonia untuk penyakit virus hanta tipe HPS. Selain itu juga melakukan pematauan
terhadap suspek leptospirosis, sindrom jaundice (kuning), suspek dengue, suspek demam
tifoid, suspek rickettsiosis untuk mendeteksi secara dini hantavirus tipe berupa Haemorrhagic
Fever with Renal Syndrome (HFRS)
Akhirnya Kesehatan lingkungan adalah benteng pertama pencegahan dan perlindungan
masyarakat. Jika kebersihan diabaikan dan pengendalian hama dianggap sepele, maka
ancaman penyakit seperti hantavirus dapat datang tanpa disadari. Kini saatnya Lampung
memperkuat budaya hidup bersih dan waspada demi menjaga kesehatan bersama.